Slider

Aktual

Smal Galeri

‹
›

Artikel

Aqidah

Galeri

Berita

Video

Kiat Mengobati Futur Dan Malas Menuntut Ilmu Agama Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran. Bagaimana solusinya?
  menuntut_ilmu
Futur artinya rasa malas dan lemah setelah sebelumnya ada masa rajin dan semangat. Dalam kamus Lisanul ‘Arab futur didefinisikan,
سكن بعد حدّة ولانَ بعد شدة
“diam setelah intensitas tinggi, yaitu setelah melakukan dengan usaha keras”
Penyakit futur dan malas banyak menjangkiti orang-orang yang menuntut ilmu agama dan juga orang-orang yang berusaha menapaki jalan kebenaran. Bagaimana solusinya?
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin pernah ditanya, “banyak penuntut ilmu agama yang lemah tekadnya dan futur dalam menuntut. Sarana apa saja yang dapat membangkitkan tekad dan semangat dalam menuntut ilmu?“. Beliau menjawab:
***
Dha’ful himmah (tekad yang lemah) dalam menuntut ilmu agama adalah salah satu musibah yang besar. Untuk mengatasi ini ada beberapa hal:
1. Mengikhlaskan niat hanya untuk Allah ‘Azza Wa Jalla dalam menuntut ilmu
Jika seseorang ikhlas dalam menuntut ilmu, ia akan memahami bahwa amalan menuntut ilmu yang ia lakukan itu akan diganjar pahala. Dan ia juga akan memahami bahwa ia akan termasuk dalam tiga derajat manusia dari umat ini*), lalu dengan itu semangatnya pun akan bangkit.
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid” (QS. An Nisa: 69)
2. Selalu bersama dengan teman-teman yang semangat dalam menuntut ilmu
Dan teman-teman yang dapat membantunya dalam berdiskusi dan meneliti masalah agama. Jangan condong untuk meninggalkan kebersamaan bersama mereka selama mereka senantiasa membantu dalam menuntut ilmu.
3. Bersabar, yaitu ketika jiwa mengajak untuk berpaling dari ilmu
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini” (QS. Al Kahfi: 28)
Maka bersabarlah! Jika seseorang mampu bersabar lalu senantiasa kembali untuk menuntut ilmu maka lama-kelamaan menuntut ilmu akan menjadi kebiasaan baginya. Sehingga hari ketika ia terlewat dari menuntut ilmu akan terasa hari yang menyedihkan baginya.
Adapun ketika jiwa menginginkan ‘rasa bebas’ sebentar dari menuntut ilmu, maka jangan biarkan. Karena jiwa itu mengajak kepada keburukan. Dan setan itu senantiasa menghasung orang untuk malas dan tidak mau ta’lim (menuntut ilmu).

Sumber: Kitabul ‘Ilmi, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, hal 97, cetakan Darul Iman
*) maksud Syaikh, orang yang berilmu lah yang bisa menapaki jalan yang lurus yaitu shiratal mustaqim, dan akan bersama dengan orang-orang menjalani jalan tersebut. Sedangkan siapa saja orang yang menapaki shiratal mustaqim dijelaskan dalam surat An Nisa ayat 69 yang beliau sebutkan. Wallahu a’lam.
—
Penerjemah: Yulian Purnama
Artikel Muslim.Or.Id

Al Imaam as-Syaafi’iy rahimahullaah dalam kitab al-Umm berkata :

“…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (al-Umm (Beirut : Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279).

Tapi sayang, ketika Islam datang ke tanah Jawa ini, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar, masyarakat begitu berat untuk menerima Islam. Mau masuk Islam tapi harus kehilangan adat istiadat seperti selamatan-selamatan, dll..

Ini mirip beratnya masyarakat Romawi ketika disuruh masuk Nasrani tapi tidak mau kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember.

Dikutip dalam sebuah naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, dimana Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan ritual-ritual semisal selamatan kematian, Sunan Ampel berkata :

“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”

Sunan Kalijogo menjawab :

“Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan MENGHILANGKAN budaya tahlilan itu”

Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, dan Sunan Muria (yang bisa dikategorikan kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat (kaum putihan).

Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang, dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

Namun, Sunan Ampel berpandangan lain :

“Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam ?? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah"

Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (lihat hal 41, 64)

Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme ajaran Hindu dan Budha.

Tetapi sebaliknya, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Kalijaga, justru mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Bahkan sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, shalawatan, tahlilan, upacara tujuh bulanan, dll..

Pendekatan Sosial budaya dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Majapahit Tuban. Pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh aliran Tuban memang cukup efektif, misalnya Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk menarik masyarakat jawa yang waktu itu sangat menyenangi wayang kulit..

Dengan cara dan sikap Sunan Kalijaga yang sedemikian rupa, maka ia satu-satunya Wali dari Sembilan Wali di Jawa yang dianggap benar-benar wali oleh golongan kejawen (Islam Kejawen/abangan). Karena : Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang berasal dari penduduk asli Jawa (pribumi).

[Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu dan Muhammad Umar Jiau al Haq, M.Ag, Syahadatain Syarat Utama Tegaknya Syariat Islam, hal. 51-54, Kata Pengantar Muhammad Arifin Ilham (Pimpinan Majlis Adz Zikra), Penerbit Bina Biladi Press]

Dari sekelumit gambaran sejarah diatas, terlihat jelas bahwa sebenarnya kegiatan atau ritual-ritual bid'ah semisal selamatan, bersaji, sekatenan, ruwatan, tahlilan, dll, semua itu adalah bid'ah, para walisongo sendiri yang mengatakan demikian.

Tapi, karena ingin agar Islam bisa lebih mudah diterima masyarakat pada masa itu, ahirnya sebagian para wali (khususnya Sunan Kalijaga) mengambil "kebijakan" lain.

Tentu kita tak bermaksud menyudutkan Sunan Kali Jaga, bahkan beliau sendiri juga yang mengatakan bahwa bid'ah suatu saat nanti sebaiknya dihilangkan, beliau berkata :

“Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”

Jelas sekali para wali Songo sendiri, termasuk Sunan Kali Jaga, mereka sendiri lah yang menginginkan agar suatu saat budaya tahlilan ini dihilangkan.

Jadi, jika memang mengaku mencintai para wali, seharusnya saudara2 kita yang masih memegang erat ritual2 warisan nenek moyang tsb segera meninggalkannya.

Bahkan Sunan Bonang pernah bernasehat kepada ummat :

“Ee..mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami-sami nira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.(Lihat Het Book van Mbonang).

Artinya : "Wahai saudaraku ! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid’ah."

● Het Book van Mbonang adalah sebuah dokumen yang menjadi sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1930.


Dan perlu dicatat, bahwa dalam hal ini kita tak bermaksud menjadikan dokumen atau catatan sejarah tsb sebagai dalil, dalil kita tetaplah Qur'an wa Sunnah alaa fahmi Salaf, namun fakta sejarah sendiri telah menunjukkan bagaimana sebenarnya sikap dan pemahaman para wali songo yang justru menginginkan ritual-ritual bid'ah tsb dihilangkan.

Wallaahu Ta'ala A'lam bish-showaab.

__________
Abdullah Khansa
http://khansa.heck.in/apa-kata-wali-songo-tentang-bidah.xhtml

Assalaamu'alaykum
Asatidz, ane mau tanya ..
Dalam kitab ushul iman, hadits shahihain dari 'Imran bin Hushoin disebutkan ttg Bani Tamim dan Ahlul Yaman.
Tentang kabar gembira dari Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam,
Bisa dijelaskan dengan rinci, siapakah Bani Tamim, Ahlul Yaman dan apakah berita gembiranya?
Jazaakumullaahu khayran

Dijawab oleh Tommi Marsetio:
Wa'alaikumussalam warahmatullah,

Hadits tersebut secara rincinya begini :


حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُكَ عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا وَرَوَى عِيسَى عَنْ رَقَبَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَامَ فِينَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَقَامًا فَأَخْبَرَنَا عَنْ بَدْءِ الْخَلْقِ حَتَّى دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ مَنَازِلَهُمْ وَأَهْلُ النَّارِ مَنَازِلَهُمْ حَفِظَ ذَلِكَ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ

Telah bercerita kepada kami 'Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah bercerita kepada kami bapakku telah bercerita kepada kami Al A'masy telah bercerita kepada kami Jami bin Syaddad dari Shafwan bin Muhriz bahwa dia bercerita kepadanya dari 'Imran bin Hushain radliallahu 'anhuma berkata; "Aku datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan untaku aku ikat di depan pintu. Kemudian datang rombongan dari Bani Tamim maka Beliau berkata: "Terimalah kabar gembira wahai Bani Tamim". Mereka berkata:; "Tuan telah memberikan kabar gembira kepada kami maka itu berilah kami (sesuatu) ". Mereka mengatakannya dua kali. Kemudian datang orang-orang dari penduduk Yaman menemui Beliau, lalu Beliau berkata: "Terimalah kabar gembira, wahai penduduk Yaman, jika Bani Tamim tidak mau menerimanya". Mereka berkata; "Kami siap menerimanya, wahai Rasulullah". Mereka berkata; "Kami datang kepada Tuan untuk menanyakan urusan ini (penciptaan makhluq) ". Maka Beliau berkata; "Dialah Allah yang tidak ada sesuatu selain Dia sedangkan 'arsy-Nya di atas air, lalu Dia menulis di didalam adz-Dzikir (Kitab) segala sesuatu (yang akan terjadi) lalu Dia menciptakan langit dan bumi". Tiba-tiba datang seorang penyeru seraya berkata; "Untamu hilang, wahai putra Al Hushain". Maka aku segera bergegas mencarinya ternyata unta itu dikacaukan oleh fatamorgana. Demi Allah, sungguh aku sangat ingin untuk membiarkanya (demi menuntaskan mendengar apa yang Beliau sampaikan). Dan 'Isa meriwayatkan dari Raqabah dari Qais bin Muslim dari Thariq bin Syihab berkata aku mendengar 'Umar radliallahu 'anhu berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri di hadapan kami pada suatu tempat lalu Beliau mengabarkan tentang awal penciptaan makhluq hingga sampai pada ketetapan penduduk surga masuk ke tempat tinggal abadi mereka dan penduduk neraka juga masuk ke tempat tinggal abadi mereka, (dan tidak ada kejadian yang akan terjadi hingga hari qiyamat melainkan Beliau mengabarkannya), maka (diantara kami) ada yang tetap menjaganya, siapa yang masih mengingatnya tentu ingat dan siapa yang lupa tentu melupakannya".
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 2953]

Bani Tamim tersebut adalah org2 dari qabilah Bani Tamim, Ahlul Yaman adalah penduduk Yaman, sedangkan kabar gembiranya adalah Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wasallam mengabarkan mengenai Allah Ta'ala, asal mula penciptaan bumi dan makhluq hingga kepada berita gembira mengenai surga dan keabadiannya. 


Bani Tamim adalah keturunan 'Adnaan, nasabnya :

تميم بن مر بن إد بن طابخة بن إلياس بن مضر بن نزار بن معد بن عدنان


Tamiim bin Murr bin Id bin Thaabikhah bin Ilyaas bin Mudhar bin Nazaar bin Ma'd bin 'Adnaan

Sedangkan Ahlu Yaman, menurut sirah Ibnu Hisyam, nenek moyangnya berasal dari Akka bin 'Adnaan yang menikahi wanita dari qabilah Asy'ariy dan ia menetap disana.

'Adnaan adalah keturunan Nabiyullah Ismaa'iil 'Alaihissalaam.

Dan mengenai keistimewaan masing2nya, terdapat beberapa hadits khusus dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wasallam.

Mengenai Bani Tamim :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا زِلْتُ أُحِبُّ بَنِي تَمِيمٍ مُنْذُ ثَلَاثٍ سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِيهِمْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ هُمْ أَشَدُّ أُمَّتِي عَلَى الدَّجَّالِ قَالَ وَجَاءَتْ صَدَقَاتُهُمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ صَدَقَاتُ قَوْمِنَا وَكَانَتْ سَبِيَّةٌ مِنْهُمْ عِنْدَ عَائِشَةَ فَقَالَ أَعْتِقِيهَا فَإِنَّهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ

dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata: "Senantiasa aku mencintai Bani Tamim sejak aku mendengar tiga perkara yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dimana Beliau berkata, tentang mereka yang aku mendengarnya, Beliau berkata: "Mereka adalah ummatku yang paling keras perlawanannya terhada Ad-Dajjal". Dia berkata: "Ketika datang zakat-zakat dari mereka, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Inilah zakatnya kaum kita". Dan ketika diantara tawanan mereka ada yang diambil oleh 'Aisyah, Beliau bersabda: "Bebaskanlah, karena dia dari keturunan Nabi Isma'il".
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 2357]

Mengenai ahlu Yaman :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَاكُمْ أَهْلُ الْيَمَنِ أَضْعَفُ قُلُوبًا وَأَرَقُّ أَفْئِدَةً الْفِقْهُ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةُ يَمَانِيَةٌ

dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Telah datang penduduk Yaman, mereka adalah orang-orang yang perasaan hatinya paling lembut, ilmu fiqh dari Yaman, hikmah ada pada orang Yaman."
[Shahiih Al-Bukhaariy no. 4039]


hadits ahlu Yaman ini tidak ada kaitannya dengan person tertentu secara spesifik apalagi jika kemudian dikait2kan dengan keutamaan Habib 'Umar bin Hafizh, begitu pula dengan bani Tamim. Hadits ini hanya menunjukkan keutamaan ahlu Yaman dan bani Tamim secara umum, bukan terkhususkan kpd person tertentu krn itu butuh dalil lagi.

Wallaahu a'lam

Dinukil dari grup jalan yang lurus

Ukhuwah, buah keimanan kita

Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Umar Bin Khattab radhiAllahu ‘anhu pernah berkata : “Aku tidak mau hidup lama di dunia yang fana ini, kecuali karena tiga hal; keindahan berdakwah dan berjihad di jalan-Nya, repotnya bangun dan berdiri untuk Qiyamul Lail, dan indahnya bertemu dengan sahabat-sahabat seiman.”
Mungkin kisah berikut ini mampu mengawal perasaan kita. Betapa ukhuwah itu merupakan penanda iman kita.

Semenjak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam wafat, Bilal radhiAllahu ‘anhu menyatakan bahwa dirinya tidak akan mengumandangkan adzan lagi. Ketika Khalifah Abu Bakar radhiAllahu ‘anhu memintanya untuk menjadi muadzin kembali, dengan hati pilu nan sendu Bilal berkata : Biarkan aku hanya menjadi muadzin Rasulullah saja. Rasulullah telah tiada, maka aku bukan muadzin siapa-siapa lagi.

Abu Bakar pun tak bisa lagi mendesak Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.
Kesedihan sebab ditinggal wafat Rasulullah terus mengendap di hati Bilal. Dan kesedihan itu yang mendorongnya meninggalkan Madinah, ia ikut pasukan Fath Islamy menuju Syam, dan kemudian tinggal di Homs, Syria.

Lama Bilal tak mengunjungi Madinah, sampai pada suatu malam, Rasulullah hadir dalam mimpi Bilal, dan menegurnya : “Ya Bilal, Wa maa hadzal jafa? Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?”

Bilal pun bangun terperanjat, segera ia mempersiapkan perjalanan ke Madinah, untuk ziarah ke makam Rasulullah. Sekian tahun sudah ia meninggalkan Rasulullah.
Setiba di Madinah, Bilal bersedu sedan melepas rasa rindunya pada Rasulullah, pada sang kekasih.
Saat itu, dua pemuda yang telah beranjak dewasa, mendekatinya. Keduanya adalah cucu Rasulullah Hasan dan Husein radhiAllahu ‘anhuma. Dengan mata sembab oleh tangis, Bilal yang kian beranjak tua memeluk kedua cucu Rasulullah tersebut.

Salah satu dari keduanya berkata kepada Bilal, “Paman, maukah engkau sekali saja mengumandangkan adzan untuk kami? Kami ingin mengenang kakek kami.”
Ketika itu, Umar bin Khattab yang telah jadi Khalifah juga sedang melihat pemandangan mengharukan itu, dan beliau juga memohon kepada Bilal untuk mengumandangkan adzan, meski sekali saja. Bilal pun memenuhi permintaan itu.

Saat waktu shalat tiba, ia naik pada tempat dahulu biasa ia adzan pada masa Rasulullah masih hidup. Mulailah ia mengumandangkan adzan.
Saat lafadz Allahu Akbar dikumandangkan olehnya, mendadak seluruh Madinah senyap, segala aktifitas terhenti, semua terkejut, suara yang telah bertahun-tahun hilang. Suara yang mengingatkan pada sosok Nan Agung, suara yang begitu dirindukan itu telah kembali.

Ketika Bilal meneriakkan kata Asyhadu an laa ilaha illallah, seluruh isi kota Madinah berlarian ke arah suara itu sambil berteriak, bahkan para gadis dalam pingitan mereka pun keluar. Dan saat Bilal mengumandangkan Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, Madinah pecah oleh tangisan dan ratapan yang sangat memilukan.

Semua menangis, teringat masa-masa indah bersama Rasulullah, Umar bin Khattab yang paling keras tangisnya. Bahkan Bilal sendiri pun tak sanggup meneruskan adzannya, lidahnya tercekat oleh air mata yang berderai.

Hari itu Madinah mengenang masa saat masih ada Rasulullah diantara mereka. Hari itu adalah adzan pertama dan terakhir bagi Bilal setelah Rasulullah wafat. Adzan yang tak bisa dirampungkan.
Bayangkan kita seolah sedang hidup bersama di tengah-tengah mereka, hamba-hamba Allah yang selalu terhubung dengan langit dan merasakan indahnya ukhuwah dalam kebenaran dan kemuliaan.
Maka jika masih ada batas dalam perjalanan ukhuwah kita, bisa dipastikan kita telah gagal menggenggam makna ukhuwah yang sebenarnya.

Ada sebuah nasihat dari Ibnul Qoyyim Al Jauziyah rahimahullah,
“Ukhuwah itu hanya sekedar buah dari keimanan kita kepada Allah.”
Jadi jika ukhuwahnya bermasalah mari kita evaluasi keimanan kita kepada-Nya. Efek dari hubungan baik kita dengan yang ada di langit secara langsung berefek pada baiknya keterhubungan kita dengan yang ada dibumi. Dalam sebuah kutipan dari al Mughirah, ada nasihat yang mengingatkan kita.
Sebesar‬ cintamu kepada Allah, sebesar itu pula cinta orang lain kepadamu.
Sebesar ketakutanmu akan murka Allah, sebesar itu pula keseganan orang lain terhadapmu.
Sebesar kesibukanmu pada Allah, sebesar itu pula orang lain sibuk untukmu.
Begitu juga dalam Ayat Al Qur’an, Allah berfirman,
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat :10).
Ikhwah fiillah, hati yang beriman adalah hati yang jelita disebabkan dalam hati mereka selalu bersambung dengan Allah dan selalu meneladani Rasulullah. Salim A. Fillah pernah berkata, hati yang jelita itu adalah hati yang selalu mengulurkan rasa cinta pada sesama. Hati mereka selalu tunduk pada Allah dan Rasulullah sehingga mudah tunduk pada ukhuwah meski dengan berbagai perbedaan yang ada.

Dan rendahkanlah dirimu bila bersama orang Mukmin. Kita diminta berendah hati bila kita mau meneladani Rasulullah. Karena ketika kita merendah kita tak akan mudah terjatuh. Dan bila sampai terjatuh tak begitu terasa sakit.
ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺑﺎﺭﻙ وسلم
(Ukhtina fiillah Rosy Khusaeni/adibahasan/arrahmah.com)
TRIBUN-MEDAN.com - Beberapa orang memiliki masalah paru-paru meskipun mereka tidak pernah menyalakan rokok sekali pun dalam hidup mereka. Namun ada juga dari Anda yang telah merokok selama 40 tahun, namun malah paru-paru mereka bekerja baik-baik saja. Semua ini tergantung pada organisme seseorang.

Namun, ini ada saran tentang cara untuk membersihkan paru-paru Anda dalam tiga hari.

Sebelum Anda memulai proses detoksifikasi, Anda harus "membuang" semua produk susu Karena tubuh Anda membutuhkan untuk menyingkirkan racun dari produk susu.

Hari pertama minum secangkir teh herbal sebelum tidur. Ini akan melepaskan racun dalam usus yang dapat menyebabkan sembelit. Paru-paru tidak boleh kelebihan beban dengan sulit, pekerjaan bagian lain dari tubuh selama pemurnian.

Peras 2 lemon dalam 300 ml air sebelum sarapan. Minum 300 ml jus jeruk. Jika Anda tidak menyukai rasanya, Anda bisa menggantinya dengan jus nanas. Jus alami Mengandung antioksidan yang meningkatkan sistem pernapasan.

Minum 300 ml jus wortel antara sarapan dan makan siang. Jus ini akan membantu Anda untuk mengalkalize darah Anda selama tiga hari pembersihan.

Selama waktu makan siang Anda harus minum 400 ml jus kaya akan kalium. Kalium bertindak sebagai tonik pembersihan. Sebelum tidur membuat 400 ml jus cranberry, yang yang akan membantu dalam memerangi bakteri di paru-paru yang dapat menyebabkan infeksi.

Perawatan tubuh dan latihan

Mandilah selama 20 menit dengan air panas setiap hari akan memungkinkan tubuh melalui keringat kehilangan lebih banyak racun.

Masukan 5 sampai 10 tetes eucalyptus dalam mangkuk air panas. Letakkan wajah Anda di atas mangkuk dan tutup dengan handuk. Hirup uap sampai air mendingin. Lakukan ini selama 3 hari atau 72 jam. (muhammad tazli/tribun-medan.com)
ettoavi - dalam Shahih Bukhari terdapat kisah sebagai berikut,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ وَكَّلَنِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – بِحِفْظِ زَكَاةِ رَمَضَانَ ، فَأَتَانِى آتٍ فَجَعَلَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ ، وَقُلْتُ وَاللَّهِ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . قَالَ إِنِّى مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ ، وَلِى حَاجَةٌ شَدِيدَةٌ . قَالَ فَخَلَّيْتُ عَنْهُ فَأَصْبَحْتُ فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ الْبَارِحَةَ » . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ » فَعَرَفْتُ أَنَّهُ سَيَعُودُ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – إِنَّهُ سَيَعُودُ . فَرَصَدْتُهُ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – . قَالَ دَعْنِى فَإِنِّى مُحْتَاجٌ ، وَعَلَىَّ عِيَالٌ لاَ أَعُودُ ، فَرَحِمْتُهُ ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، مَا فَعَلَ أَسِيرُكَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ شَكَا حَاجَةً شَدِيدَةً وَعِيَالاً ، فَرَحِمْتُهُ فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « أَمَا إِنَّهُ قَدْ كَذَبَكَ وَسَيَعُودُ » فَرَصَدْتُهُ الثَّالِثَةَ فَجَاءَ يَحْثُو مِنَ الطَّعَامِ ، فَأَخَذْتُهُ فَقُلْتُ لأَرْفَعَنَّكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ، وَهَذَا آخِرُ ثَلاَثِ مَرَّاتٍ أَنَّكَ تَزْعُمُ لاَ تَعُودُ ثُمَّ تَعُودُ . قَالَ دَعْنِى أُعَلِّمْكَ كَلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهَا . قُلْتُ مَا هُوَ قَالَ إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) حَتَّى تَخْتِمَ الآيَةَ ، فَإِنَّكَ لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ وَلاَ يَقْرَبَنَّكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ . فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ فَأَصْبَحْتُ ، فَقَالَ لِى رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَا فَعَلَأَسِيرُكَالْبَارِحَةَ » . قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ أَنَّهُ يُعَلِّمُنِى كَلِمَاتٍ ، يَنْفَعُنِى اللَّهُ بِهَا ، فَخَلَّيْتُ سَبِيلَهُ . قَالَ « مَا هِىَ » . قُلْتُ قَالَ لِى إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الْكُرْسِىِّمِنْأَوَّلِهَا حَتَّى تَخْتِمَ ( اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ ) وَقَالَ لِى لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌوَلاَ يَقْرَبَكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ ، وَكَانُوا أَحْرَصَ شَىْءٍ عَلَى الْخَيْرِ . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم –«أَمَا إِنَّهُ قَدْ صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ، تَعْلَمُ مَنْ تُخَاطِبُ مُنْذُ ثَلاَثِ لَيَالٍ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ » . قَالَلاَ . قَالَ « ذَاكَ شَيْطَانٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mewakilkan padaku untuk menjaga zakat Ramadhan (zakat fitrah). Lalu ada seseorang yang datang dan menumpahkan makanan dan mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Demi Allah, aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku pun sangat membutuhkan ini.” Abu Hurairah berkata, “Aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.“
Aku pun tahu bahwasanya ia akan kembali sebagaimana yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam katakan. Aku pun mengawasinya, ternyata ia pun datang dan menumpahkan makanan, lalu ia mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu ia berkata, “Biarkanlah aku, aku ini benar-benar dalam keadaan butuh. Aku memiliki keluarga dan aku tidak akan kembali setelah itu.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun menaruh kasihan padanya, aku membiarkannya. Lantas di pagi hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku: “Wahai Abu Hurairah, apa yang dilakukan oleh tawananmu?” Aku pun menjawab, “Wahai Rasulullah, dia mengadukan bahwa dia dalam keadaan butuh dan juga punya keluarga. Oleh karena itu, aku begitu kasihan padanya sehingga aku melepaskannya pergi.” Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dia telah berdusta padamu dan dia akan kembali lagi.“
Pada hari ketiga, aku terus mengawasinya, ia pun datang dan menumpahkan makanan lalu mengambilnya. Aku pun mengatakan, “Aku benar-benar akan mengadukanmu pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sudah kali ketiga, engkau katakan tidak akan kembali namun ternyata masih kembali. Ia pun berkata, “Biarkan aku. Aku akan mengajari suatu kalimat yang akan bermanfaat untukmu.” Abu Hurairah bertanya, “Apa itu?” Ia pun menjawab, “Jika engkau hendak tidur di ranjangmu, bacalah ayat kursi ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum …‘ hingga engkau menyelesaikan ayat tersebut. Faedahnya, Allah akan senantiasa menjagamu dan setan tidak akan mendekatimu hingga pagi hari.” Abu Hurairah berkata, “Aku pun melepaskan dirinya dan ketika pagi hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padaku, “Apa yang dilakukan oleh tawananmu semalam?” Abu Hurairah menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengaku bahwa ia mengajarkan suatu kalimat yang Allah beri manfaat padaku jika membacanya. Sehingga aku pun melepaskan dirinya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa kalimat tersebut?” Abu Hurairah menjawab, “Ia mengatakan padaku, jika aku hendak pergi tidur di ranjang, hendaklah membaca ayat kursi hingga selesai yaitu bacaan ‘Allahu laa ilaha illa huwal hayyul qoyyum’. Lalu ia mengatakan padaku bahwa Allah akan senantiasa menjagaku dan setan pun tidak akan mendekatimu hingga pagi hari. Dan para sahabat lebih semangat dalam melakukan kebaikan.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Adapun dia kala itu berkata benar, namun asalnya dia pendusta. Engkau tahu siapa yang bercakap denganmu sampai tiga malam itu, wahai Abu Hurairah?” “Tidak”, jawab Abu Hurairah. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dia adalah setan.” (HR. Bukhari no. 2311).

Pada kisah Abu Hurairah diajarkan oleh setan. Dan benarlah bahwa kesombongan adalah penghambat diterimanya kebenaran.

Syaikh Ibn `Utsaimin berkata, “Benarlah apa yang dikatakan oleh Syaikhu’l Islām, yakni bahwa kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima apapun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar. Dahulu, Imam Ahmad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!

Mengenai perkara belajar dan berguru (ta`līm) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….”  [Fathu’l Mu`īn fi’t Ta`līq `alā Iqtidhā’ish Shirāthi’l Mustaqīm]



Oleh Aan Chandra Thalib

Membaca kembali Pesan Prof. DR. Abdurrahman As-Sudais -hafidzahullah- kepada penuntut ilmu.

Disela-sela kunjungannya ke Universitas Islam Madinah Syaikh sempat memberikan ceramah singkat dihadapan Mahasiswa UIM. Berikut petikan ceramah beliau:

"Sudah selayaknya bagi penuntut ilmu untuk berakhlak dengan akhlak yg baik, dan berusaha agar pengaruh ilmu nampak dalam perilaku dan interaksinya dengan semua manusia..
(Allah mensifati nabi-Nya): "Sesungguhnya engakau (Muhammad) berada diatas akhlak yg agung)".

لا تحسـبنَّ العـلمَ ينفـعُ وحدَه *** مـا لـم يتـوَّج ربُّـه بخــلاقِ
والعلـمُ إِن لم تكتـنفهُ شـمـائلٌ *** تُعْـليهِ كان مطيـةَ الإِخـفـاقِ
Jangan mengira kalau ilmu itu bermanfaat dengan sendirinya.

Jika pemiliknya tidak menghiasinya dengan akhlak yg baik.

Apabila ilmu tidak dibarengi dengan perangai baik yang membuatnya tinggi,

maka (ilmu) itu hanya akan mengantarkan (pemiliknya) pada kerusakan.


Bagi orang yang berilmu, semakin bertambah ilmunya tetang Allah, Rasul-Nya dan agama-Nya, maka keberadaannya semakin membawa banyak manfaat bagi hamba2 Allah. Akhlaknya pun semakin baik terhadap sesama kaum muslimin bahkan terhadap non muslim sekalipun. Karena itu wajib bagi kita untuk menyebarkan agama ini dengan mengacu pada petunjuk Rasulullah, Allah brfirman tentang (perangainya),

"Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan ajaklah mereka bermusyawarah dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah bertekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (QS: 3: 159)

Wajib bagi para penuntut ilmu menjadi gambaran serta contoh yg baik dalam mentaati rambu-rambu agama, ia harus menjadi suri tauladan yg baik, ia juga harus merealisasikan ittiba' terhadap sang guru pertama (Rasulullah), (dalam riwayat disebutkan): "Rasulullah shallahu alaihi wasallam adalah orang yg paling baik akhlaqnya" (al-hadits).
Maka sudah seharusnya bagi para penuntut ilmu untuk memperbaiki akhlak mereka agar kemuslimannya semakin membawa manfaat bagi sekitar juga memberi performa luhur terhadap agama.

Penuntut ilmu juga dituntut untuk selalu bersikap pertengahan. (Allah berfirman):

"Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat) yang adil (pertengahan dan pilihan)".
Maka berhati-hatilah wahai penuntut ilmu dari sikap ghuluw (berlebih-lebihan (ekstrim)) dan jafaa' (sikap terlalu longgar)".

Hendaknya mereka selalu menjaga hati-hati mereka agar tetap selamat, terbebas dari hasad dan permusuhan.
Al qur'an adalah penyatu kita, Sunnah merupakan panduan kita, metode salaf adalah manhaj kita sebagai ahlussunnah wal jamaah. Jalan kita adalah sebaik-baik jalan dimana generasi awal pernah melangkah diatasnya, jalan para sahabat Ridhwaanullahi alaihim, dan tidak akan baik akhir dari umat ini kecualai dengan apa yg menjadikan baik generasi awalnya.

Ikhwah sekalian..
Apa gerangan yang terjadi pada penuntut ilmu hari ini..?
Mengapa mereka saling bertikai..? Saling berselisih..?
Bahkan sampai pada taraf saling melabeli orang dngan tuduhan kafir, sesat, saling membid'ahkan, memfasikkan dalam masalah ijtihaadiyah dimana Abu Bakar dan Umar pernah berselisih karenanya begitu juga para imam setelahnya, Abu Hanifah, Malik Imam darul hijrah, As-Syafi'ie, Ahmad dan imam lainnya setelah mereka -rahimahumullah-, namun hati-hati mereka tetap selamat dari saling mencela antara satu dan lainnya. Mereka tetap berlapang dada, kasih sayangpun tetap terjalin diantara mereka"


قالوا يزورك أحمد وتزوره ¤¤¤ قلت الفضائل لا تفارق منزله
إن زارني فبفضله أو زرته ¤¤¤ فلفضله والفضل في الحالين له


Mereka berkata, "Ahmad menziarahimu dan engakaupun menziarahinya.

Kukatakan, kebaikan tak tak pernah lenyap dari rumahnya.

Apabila dia menziarahiku, itu semata-mata karena kebaikannya,

Atau aku menziarahinya maka itu juga karena keutamaannya. Pada dua kondisi itu kebaikan kebaikan kembali padanya.

Sebagian penuntut ilmu hadaahumullah (semoga Allah memberi hidayah kepada mereka) telah salah dalam melangkah, mereka menyibukkan diri dengan mncari-cari aib sesama. Padahal siapa diantara kita yg tak pernah salah, siapa didunia ini yg hanya memiliki kebaikan saja...?

Sudah saatnya para penuntut ilmu menjauhi sikap keras dan tak terpuji itu, mereka harus memiliki prinsip yang shohih dlm menyikapi khilaf, terutama dalam masalah ijtihaadiyah. Perselisihan apapun hendaknya dikembalikan kpada ahli ilmu.

Allah berfirman, ".. Dan kalau mereka mengembalikannya kepada Rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulan orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri), Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu tentulah kamu telah mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja diantaramu" (QS: 04:83)

Namun, kalaupun harus terjadi khilaf terutama dalam masaalah cabang-cabang syariat, masalah ijtihadiyah serta nawaazil mu'aashiroh, maka perselisihan itu jangan sampai merusak ukhuwah islamiyah dan imaniyah. Setiap penuntut ilmu harus memperhatikan sisi ini.

Dan hendaknya kalian wahai penuntut ilmu menghindari sikap tahazzub yg mengundang kebencian dan perpecahan.. Alqur'an dan Sunnah telah menyatukan kita, begitu juga manhaj salaful ummah, sebab kapan ummat terkotak-kotakkan oleh kelompok-kelompok, jamaah-jamaah serta perselihan maka hasilnya adalah perselisihan dan perpecahan. Lihatlah realitas ummat saat ini..

(Prof. DR. Abdurrahman As-Sudais -hafidzahullah-. Imam dan Khotib Masjidil Haram Makkah Al-Mukarramah. Faidah ini disampaikan pada kultum ba'da shalat dzhuhur di Maskam Bin Baz UIM KSA. Senin 22-01-1435 H)
ettoavi - Disuruh memimpin orang kampung untuk sholat berjamaah adalah salah satu kesempatan bagi kita untuk mengenalkan sunnah, bagaimana tatacara Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sholat.

Namun, terkadang ada sesuatu yang menganjal di hati. Perasaan,

"Nanti orang ribut ngomongin kita, sholatnya ko' beda dari yang lain, atau bahkan khawatir nanti dicap membawa ajaran baru," dst

Maka biarkan saja, maju bila memang disuruh jadi imam. Tepis semua perasaan yang menyekat dakwah, sebab syaiton selalu ambil bagian untuk memalingkan manusia dari kebaikan.

Namun, tentu saja ada hal yang perlu untuk diperhatikan. Misalnya, bacaan "basmalah" saat ingin memulai membaca al fatihah. Jika jabatan imam di tengah masyarakat anda yang konon katanya bermadzhab syafi'i untuk pertama kalinya, maka nyaringkanlah bacaan basmalah anda.

Tujuannya adalah, agar makmum tidak terlalu merasakan perbedaan dengan sholat yang biasa mereka lakukan.

Nah, tantangan selanjutnya ialah saat wirid & do'a bersama. Tetap lakukan apa yang Rasulullah lakukan tatkala beliau shallalahu alaihi wasallam selesai sholat. Hadapkan diri anda ke arah makmum, angkat sedikit suara wirid & dzikir anda.

"Astaghfirullah 3X, allahumma antassalm...dst"

Dengan maksud, mengabarkan kepada jamaah bahwa kita bukan/tidak anti dengan wirid/dzikir sekaligus mengajarkan mereka wirid yang sesuai dengan sunnah Nabi kita shallaahu alaihi wasallam yang mulia.

Trik selanjutnya ialah, kembali palingkan tubuh anda ke arah kiblat. Tujuannya agar jamaah mengira bahwa kita sedang berdoa sekaligus "memaksa" mereka untuk berdoa sendiri-sendiri. Pengalaman saya, biasanya mereka akan memubarkan diri.

Nanti, jika ada jamaah yang bertanya, mengapa anda sholat begini dan begitu? Maka jelaskan dengan bahasa yang sederhana, sisipkan dalil 'aqli di sela-sela dalil naqli.

Tahap selanjutnya, tentu saja berbeda. Pelan-pelanlah ketika menyampaikan risalah nubuwah yang agung ini. Jangan sampai karena perilaku kita yang tak senonoh membuat masyarakat lari dari dakwah tauhid, dakwah sunnah, dakwah nubuwwah.

Status FB Akhi Hedi Kurniadi (Ibnu Hilmy)
ettoavi - Otak manusia mungkin merupakan salah satu misteri terbesar yang masih belum terpecahkan hingga saai ini. Baik itu di bidang kedokteran atau filsafat, pertanyaan yang berkaitan dengan otak manusia dan pikiran khususnya telah membuat semua filsuf dan peneliti terkemuka kewalahan. Pada artikel ini, kita melihat beberapa fakta mengejutkan tentang otak manusia. Fakta-fakta tentang otak manusia akan memberikan wawasan tentang misteri tentang otak dan memungkinkan Anda untuk memahami lebih jauh bahwa otak manusia adalah misteri terbesar yang diketahui manusia. Mari kita mengenal jauh misteri otak manusia. Berikut adalah beberapa fakta mengejutkan tentang otak manusia yang saya kutip dari situs boldsky.com.

Otak Lebih Aktif Selama Tidur
Jika Anda berpikir bahwa otak beristirahat (tidak aktif) di malam hari, anda salah besar. Harus anda catat mencatat bahwa otak sebenarnya jauh lebih aktif pada malam hari disaat kita tidur. Dan Otak merupakan organ yang tidak pernah istirahat, baik Anda bermimpi atau tidak.

Prediksi Masa Depan
Ini adalah salah satu fakta yang paling aneh tentang otak yang tidak diketahui tidak diketahui oleh para ilmuwan sama sekali tentang bagaimana hal itu bisa terjadi. Ilmu pengetahuan dan filsafat datang untuk dapat memahami bagaimana otak memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan. Peristiwa tertentu yang terjadi ketika kita bermimpi benar-benar terwujud sebagai realitas. Sebuah sistem di otak yang dikenal sebagai Dopamine Sistem Mid Brain memberikan sinyal tentang peristiwa yang belum terjadi belum - memberikan cara / informasi tentang prediksi masa depan.

Pria Menggunakan Otak mereka Lebih Dari 10 Persen  
Jika Anda ingin memahami mengapa wanita kadang-kadang lumpuh/lemah/tidak bisa berbuat apa-apa (panik) ketika harus membuat keputusan dan penilaian, di sini adalah jawabannya. Mereka menggunakan persentase yang lebih rendah dari otak-mereka hampir 10 persen lebih sedikit bila dibandingkan dengan laki-laki.

Tidak memiliki Reseptor Rasa Sakit
ini adalah salah satu fakta yang paling mengejutkan tentang otak. Ketika seluruh tubuh rentan terhadap rasa sakit, otak seperti tidak merasakan sakit apapun. Itu karena otak tidak memiliki reseptor rasa sakit. Mungkin tidak cukup ruang untuk reseptor rasa sakit, begitukah?

Unik
Setiap orang memiliki ukuran otak yang tidak pernah sama. Ini adalah salah satu kontributor kecerdasan yang paling utama. Orang dengan ukuran otak yang lebih besar memiliki kemampuan yang lebih baik untuk membuat penilaian dan memahami fenomena diluar tubuh.

Mengkonsumsi Energi Paling banyak
Otak adalah organ yang paling rakus dan mengkonsumsi energi paling banyak jika dibandingkan dengan seluruh organ tubuh lainnya.

Otak remaja belum sepenuhnya berkembang
Ya, otak remaja belum sepenuhnya berkembang. Bahkan, perilaku remaja amat erat kaitanya dengan perkembangan otak mereka. Mungkin itu juka sebabnya mereka mudah stress dan galau

#otak #remaja
Hadits Pertama

"Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa & shalat." Maka para sahabat pun bertanya: "Apakah yang dapat menghapusnya wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Bersusah payah dalam mencari nafkah." (HR. Bukhari)


إِنَّ مِنَ الذُّنُوْبِ ذُنُوْبًا لاَ يُكَفِّرُهَا الصَّلاَةُ وَ لاَ الصِّيَامُ و لاَ الْحَجُّ وَ لاَ اْلعُمْرَةُ . قَالَ : فَمَا يُكَفِّرُهَا يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ : اَلْهُمُوْمُ فِيْ طَلَبِ الْمَعِيْشَةِ.



“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, puasa, haji atau umroh.” Berkata (para shahabat) “Maka apa yang menghapuskannya, ya Rasulullah?” Rasulullah berkata: “ kesusah-payahan dalam mencari nafkah.”



Dalam Silsilah Hadits Dhaif dan Maudhu' jilid II no. 924 berkata syaikh al-Albani :

Hadits Maudhu'. Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Ausath (I/34), Abu Nu'aim dalam al-Hilyah (VI/235), Ibnu Asakir (I/332) dan lainnya, dengan sanad dari Muhammad bin Salam al-Mashri, dari Yahya bin Abdullah bin Bukair, dari Malik bin Anas, dari Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Kemudian ath-Thabrani berkata, "Tidak ada yang meriwayatkan dari Malik kecuali Yahya, kemudian hanya secara tunggal pula diriwayatkan darinya oleh Muhammad bin Salam al-Mashri'"Adapun al-Khatib juga mengeluarkan riwayat ini dalam at-Talkhish (II/161) mengatakan, Muhammad bin Sallam terbukti telah meriwayatkan hadits munkar dari yahya. Adapun Ibnu Asakir menyatakan bahwa riwayat ini gharib sekali.Menurut saya, Muhammad bin Sallam al-mashri telah dituduh oleh adz-Dzahabi telah meriwayatkan dari Yahya bin Bakr hadits yang maudhu'. Wallahu a'lam





Hadits Kedua

"Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembang biakkan oleh-Nya seperti gunung, maka bersedekahlah." (HR. Bukhari & Muslim)



Sepengecekan saya -mohon dikoreksi jika salah- hadits yang agak mirip ada di selain Shahih Bukhari dan Shahih Muslim :


إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا تَصَدَّقَ مِنْ طَيِّبٍ تَقَبَّلَهَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَخَذَهَا بِيَمِينِهِ وَرَبَّاهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ مُهْرَهُ أَوْ فَصِيلَهُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَصَدَّقُ بِاللُّقْمَةِ فَتَرْبُو فِي يَدِ اللَّهِ أَوْ قَالَ فِي كَفِّ اللَّهِ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ فَتَصَدَّقُوا



"Sesungguhnya jika seorang hamba mensedekahkan hartanya dari hasil yang baik maka Allah akan menerimanya dan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya serta mengembangkannya sebagaimana salah satu dari kalian mengembangkan anak kuda atau untanya, dan sesungguhnya ada seorang laki laki yang bersedekah dengan satu suapan makanan maka ia berkembang dalam tangan Allah, " atau beliau Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Dalam telapak tangan Allah hingga sedekah tersebut menjadi seperti gunung maka bersedekahlah kalian."(Shahih, HR. Ahmad no. 7634, Ibnu Khuzaimah no. 2426, ath-Thabrani dalam al-Ausath no. 2991, )



Adapun lafadz dalam Shahih Bukhari di hadits no. 1410, 7429


مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ ـ وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ ـ وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ 



"Barangsiapa yang bershadaqah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kananNya lalu mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung"



 atau dalam Shahih Muslim, di hadits no. 1014 :


لَا يَتَصَدَّقُ أَحَدٌ بِتَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، إِلَّا أَخَذَهَا اللهُ بِيَمِينِهِ، فَيُرَبِّيهَا كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، أَوْ قَلُوصَهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ، أَوْ أَعْظَمَ



"No one gives Sadaqa of a date out of his honest earning, but Allah accepts it with His Right Hand, and then fosters it as one of you fosters the colt or a young she-camel, till it becomes like a mountain or even greater.."





Hadits Ketiga



"Iman itu adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang. bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan." (HR. Bukhari)



Maka ini adalah perkataan para ulama salaf --> http://www.dorar.net/enc/aqadia/3291

Jika pun hanya diambil "iman itu bertambah dan berkurang" , ia merupakan perkataan Abu Hurairah dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, hanya saja tidak shahih [lihat Dha'if Sunan Ibnu Majah no. 74]
حدثنا أبو عثمان البخاري سعيد بن سعد قال حدثنا الهيثم بن خارجة قال حدثنا إسمعيل يعني ابن عياش عن عبد الوهاب بن مجاهد عن مجاهد عن ابن عباس وعن أبي هريرة قالا الإيمان يزيد وينقص.





Hadits Keempat



“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari)



Maka hadits ini :شراركم عزابكم ، وأراذل موتاكم عزابكم dikeluarkan oleh Al-Uqoili di kitab Adhu'afa' (3/356), abdurrozzaq dalam mushonafnya (7/107 no. 10387), Ahmad dalam musnadnya (no. 21450), dan syaikh Albani telah mendha'ifkannya di silsilah adh-dha'ifah wal maudhu'ah nomor 2511





Hadits Kelima



"Siapa di antara kalian yang ikhlas tinggal di rumah untuk mengurus anak-anak dan melayani segala urusan suaminya, maka ia akan memperoleh pahala yang kadarnya sama dengan pahala para mujahidin yang berjuang di jalan Allah” (HR. Bukhari & Muslim) 



Berkata akhuna akh Tipongtuktuk :


مَنْ قَعَدَ ، أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا ، مِنْكُنَّ فِي بَيْتِهَا فَإِنَّهَا تُدْرِكُ عَمَلَ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ



Dirriwayatkan al-Bazzar dalam musnadnya hadits no. 2463, adapun kalimat:


أَوْلَادَهَا وَتَرْعَى شُئُوْنَ زَوْجِهَا 



untuk mengasuh anak-anak dan melayani segala urusan suaminya



tampaknya itu adalah tambahan dari orang yang memberi syarah untuk menjelaskan maksud tinggal di rumah, sehingga hadits al-Bazzar itu ditulis dengan tambahan itu menjadi sebagai berikut:


من قعدت منكن في بيتها تُرَبِّي أَوْلَادَهَا وَتَرْعَى شُئُوْنَ زَوْجِهَا فإنها تدرك عمل المجاهدين في سبيل الله تعالى



-selesai-



Syaikh Albani dalam adh-Dha'ifah no. 2744 menyebutkan hadits semakna yang dha'if :


مهنة إحداكن في بيتها تدرك به عمل المجاهدين في سبيل الله



Ibnul Jauzi juga menyebutkannya Tidak shahih dalam al-'Ilal 2/361





Hadits Keenam



Suatu ketika, Rasulullah saw dan para sahabat ra sedang ifthor. Setiap kali mereka makan sebuah kurma, biji- biji sisanya mereka sisihkan di tempatnya masing- masing. Beberapa saat kemudian, Ali menyadari bahwa dia memakan terlalu banyak kurma. Biji- biji kurma sisa mereka menumpuk lebih banyak di sisi Ali dibandingkan di sisi Rasulullah. Maka Ali pun secara diam- diam memindahkan biji-biji kurma tersebut ke sisi Rasulullah. Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan, “ Wahai Nabi, engkau memakan kurma lebih banyak daripada aku. Lihatlah biji-biji kurma yang menumpuk di tempatmu.”Nabi pun tersenyum dan menjawab, “Ali, kamulah yang memakan lebih banyak kurma. Aku memakan kurma dan masih menyisakan biji-bijinya. Sedangkan engkau, memakan kurma bersama biji-bijinya”. (HR. Bukhari)



Kisah ini adalah kedustaan atas Rasululullah, menurut syaikh Muhammad Shalil al-Munajjid, tidak tsabit, bahkan tidak ada satupun ahli ilmu yang menyandarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, selengkapnya bisa dilihat di http://tipongtuktuk.wordpress.com/2014/07/07/tentang-orang-yang-memakan-kurma-dengan-bijinya/





Hadits Ketujuh



“Shalat adalah tiang agama. Maka barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari & Muslim)


اَلصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ



Hadits ini tidak diketemukan dalam Shahih Bukhari ataupun Shahih Mslim, namun ada hadits yang hampir mirip:


الصلاةُ لوقتِها ، ومَن ترك الصلاةَ فلا دِينَ له ، والصلاةُ عِمَادُ الدِّينِ



"Shalat tepat waktunya, dan barang siapa meninggalkan sholat maka tidak ada agama baginya, dan shalat adalah tiang agama." [syu'abul iman no. 2550, tapi hadits ini dha'if - lihat adh-dha'ifah no. 6967 dan dha'iful jami' no. 170)



- copas dari status ustadz Abu Asma Andre -



Syaikh Abu Ishaq Al Huwaini beliau berkata :


لم اقف عليه بهذا التمام .وهو مشهور على ألسنة الناس بهذا السياق



" Tidak aku jumpai atasnya lafadz yang lengkap seperti ini - dan dia masyhur dilisan lisan manusia dengan lafadz ini...



http://alheweny.org/aws/play.php?catsmktba=10580





Hadits Kedelapan



“Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan dan minuman, sebab mengisi perut dengan penuh akan membahayakan tubuh dan menyebabkan malas shalat.” (H.R.Bukhari)



kedhaifannya disebutkan Ibnu Hibban rahimahullah dalam kitabnya al-Majruhin 2/35 :


رَوَى عَنِ الأَوْزَاعِيِّ وَقَزَعَةَ بْنِ سُوَيْدٍ الْبَاهِلِيِّ عَنِ بن أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ بن عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالْبِطْنَةَ مِنَ الطَّعَامِ فَإِنَّهَا مَكْسَلَةٌ عَنِ الصَّلاةِ مَفْسَدَةٌ لِلْجَسَدِ مَوْرَثَةٌ لِلسُّقْمِ أَخْبَرَنَاهُ مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ بْنِ مُشْكَانَ بِالطَّبَرِيَّةِ قَالَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عِيسَى الْخَشَّابُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجَزَرِيُّ عَنِ الأَوْزَاعِيِّ وَقَزَعَةَ بْنِ سُوَيْدٍ وَلَيْسَ لِلأَوْزَاعِيِّ عَنِ بن أَبِي نَجِيحٍ سَمَاعٌ أَصْلا وَأَمَّا قَزَعَةُ فَسَمِعَ مِنْهُ وَهُوَ ضَعِيفٌ وَهَذَا مِمَّا عَمِلَتْ يَدُ هَذَا الشَّيْخِ



juga Ibnul Qisarani rahimahullah dalam Tadzkiratul Hufazh 1/155 :363


- «إِيَّاكُمْ وَالْبِطْنَةَ مِنَ الطَّعَامِ، فَإِنَّهَا مَكْسَلَةٌ عَنِ الصَّلاةِ. . .» الْحَدِيثَ.رَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجَزَرِيُّ، عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، عَنْ قَزَعَةَ بْنِ سُوَيْدٍ، عَنْ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ.وَعَبْدُ اللَّهِ هَذَا كَانَ يَأْتِي بِالأَوَابِدِ عَنِ الأَوْزَاعِيِّ، وَلَيْسَ لِلأَوْزَاعِيِّ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ سَمَاعٌ أَصْلا، وَأَمَّا قَزَعَةُ فَسَمِعَ مِنْهُ، وَهُوَ ضَعِيفٌ، وَهَذَا مِمَّا عَمِلَتْ يَدَا هَذَا الشَّيْخِ يَعْنِي: الْجَزَرِيَّ.





Hadits Kesembilan



"Barangsiapa yang tidak ridha dengan ketentuan-Ku dan tidak bersabar atas cobaan-Ku, maka hendaklah ia mencari tuhan selain-Ku" (HR. Bukhari & Muslim)



Dalam Silsilah adh-Dha'ifah wal-Maudhu'ah hadits no. 505, syaikh Albani rahimahullah menulis :


 مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَيَصْبِرْ عَلَى بَلَائِي فَلْيَلْتَمِسْ رَبًّا سِوَائِيْ



Dha'if jiddan. Diriwayatkan Ibnu Hibban dalam al-Majruhin (1/324) dan ath-Thabrani dalam Mu'jam al-Kabir dan Abu Bakar al-Kalabadzi dalam Miftahum Ma'ani (1/376) dan al-Khatib dalam al-Talkhis (2/39) dan Ibnu Asakir (1/115/7, 1/267/12, 1/304/15) dari jalan Sa'id bin Ziyad dengan sanad yang telah disebutkan di hadits sebelumnya.Dan berkata al-Haitsami dalam al-Majmu' (7/207) : "dan dalam sanadnya terdapat Sa'id bin Ziyad bin Hind, dan dia matruk."Dan berkata al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihya' (3/296) : "dan sanadnya dha'if", tapi ini longgar menurut pendapat kami, al-Manawi menukil darinya, dia berkata "dha'if sekali", dan ini lebih mendekati kebenaran.dan diriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang mungkin lebih baik dari ini : (nomor 506)



hadits nomor 506


مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَاءِ اللَّهِ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِقَدَرِ اللَّهِ فَلْيَلْتَمِسْ إِلَهًا غَيْرَ اللَّهِ



"Barangsiapa yang tidak ridha dengan ketentuan Allah dan tidak mengimani takdir Allah, maka hendaklah dia mencari tuhan selain Allah."



Dha'if jiddan. Dikeluarkan oleh ath-Thabrani dalam Mu'jam ash-Shaghir (hal. 187) juga di Mu'jam al-Ausath dan dari jalan Abu Nu'aim dalam Akhbar Ashbahan (2/228), dan al-Khatib dalam Tarikh Baghdad (2/227) dari jalan Suhail bin Abdillah dari Khalid al-Hidza dar ayahnya Abu Qilabah dari Anas bin Malik secara marfu'. Dan ath-Thabrani berkata : "Tidak ada yang meriwayatkan dari Khalid kecuali dari Suhail". Aku berkata : dan dikatakan tentangnya : Suhail adalan Ibnu Abi Hazm, dan dia lemah menurut jumhur.





Hadits Kesepuluh



"Barangsiapa ridho dengan rezeki yang sedikit dari Allah maka Allah akan ridho dengan amal yang sedikit dari dia, dan menanti-nanti (mengharap-harap) kelapangan adalah suatu ibadah." (HR. Bukhari)



Inilah bila dua hadits terpisah kemudian digabung


مَن رضِيَ منَ اللَّهِ باليسيرِ مِنَ الرِّزقِ رضِيَ اللَّهُ منهُ بالقليلِ منَ العمَلِ وانتظارُ الفرَجِ عبادةٌ



1. Lafadz hadits :


مَن رضِيَ منَ اللَّهِ باليسيرِ مِنَ الرِّزقِ رضِيَ اللَّهُ منهُ بالقليلِ منَ العمَلِ



as-Suyuthi mengeluarkannya dalam al-Jami' ash-Shaghir yang syaikh Albani mendha'ifkannya dalam Dha'iful Jami' no. 5601, dalam takhrij Misykah al-Mashabih, syaikh Albani menyebutkan ada dua kelemahan dalam sanadnya, dengan lafadz yang mirip, al-Iraqi juga mendhaifkan dalam Takhrij al-Ihya' 5/64, juga Ibnul Jauzi dalam al-Ilal 2/806 tidak menshahihkannya



2. Sementara lafadz berikutnya, adalah hadits yang terpisah :انتظارُ الفرَجِ عبادةٌ"Menunggu kelapangan adalah ibadah"



dari dorar.net:

Ibnu Adi dalam al-Kamil 4/297 : Munkar dari haditsnya Malik

Adz-Dzahabi dalam Mizanul I'tidal 1/334 : Bathil dari Malik

Al-Albani dalam Dha'iful Jami' no. 1330 : Dha'if





Hadits Kesebelas



"Tidur dan istirahatnya seseorang di jalan Allah lebih utama daripada dunia dan segala isinya." (HR. Bukhari & Muslim)



Tidak diketemukan hadits ini di Shahihain, tapi yang benar adalah :


لَغَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا



"Pergi keluar berperang di jalan Allah pada awal (pagi) hari atau pergi keluar berperang pada akhir (siang) hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya". (HR. Bukhari no. 2792, Muslim no. 1880, at-Tirmidzi no. 1651, Ibnu Majah no. 2757, Ahmad no. 12350)





Hadits Keduabelas



"Tidur di pagi hari adalah kejahilan, tidur di tengah hari adalah kemuliaan akhlak dan tidur di sore hari adalah kebodohan." (HR. Bukhari & Muslim)


نَوْمُ أَوَّلِ النَّهَارِ خُرْقٌ، وَأَوْسَطُهُ خُلْقٌ، وَآخِرُهُ حُمْقٌ



Yang benar itu adalah adalah perkataan Khawwat bin Jubair yang dibawakan al-Bukhari dalam kitabnya al-Adabul Mufrad no. 1242, dan dishahihkan syaikh Albani dalam Shahih al-Adabul Mufrad no. 942



catatan dalam shahih adabul mufrad :Dalam naskah India yang dicetak di percetakan Al Khalili ditetapkan -dengan dua dhammah- Khuluqun ganti dari Khulqun itu juga benar. Sepertinya maksudnya adalah bahwa tidur di pertengahan siang merupakan wujud perangai yang baik. Ini memberi isyarat pada sabdanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam: "Tidur Qailulahlah kamu karena syetan tidak tidur Qailulah." Ada dalam Ash-Shahihah seperti yang sudah lalu dan sepertinya juga menguatkan perkataan "Dan (tidur) di penghujungnya adalah kebodohan. Karena hakikat kebodohan -sebagaimana dalam An-Nihayah- (meletakkan sesuatu tidak pada tempamya padahal sudah diketahui jeleknya). Kebalikannya berarti pujian terhadap orang yang tidur di tengah hari. Adapun hadits: "Barang siapa tidur setelah Ashar, lalu akalnya terganggu maka janganlah ia mencela kecuali pada dirinya sendiri." Hadits tersebut adalah dhaif.





Hadits Ketigabelas



"Wahai anakku Fatimah ! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka itu di dunia tidak mau menutup rambutnya daripada dilihat laki-laki yang bukan mahramnya." (HR. Bukhari & Muslim)


يا بنيتي ! أما المعلقة بشعرها فإنها كانت لا تغطي شعرها من الرجال



Hadits ini palsu, tidak ada asalnya, yang dinisbatkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Penjelasan detail silahkan dilihat di

https://abufawaz.wordpress.com/2012/12/02/hadits-palsu-tentang-berbagai-siksaan-bagi-wanita-di-dalam-api-neraka/

http://umar-arrahimy.blogspot.com/2014/02/peringatan-rasulullah-akan-kaum-wanita.html

http://islamqa.info/ar/144660

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=54830





Hadits Keempatbelas



"Barangsiapa yang menyampaikan satu [1] Ilmu saja, dan ada orang yang mengamalkan nya, walau yang menyampaikan telah tiada [wafat], akan tetapi dia akan tetap memperoleh Pahala.” (HR. Al-Bukhari)



Hingga saat ini saya belum menemukan hadits ini di Shahih Bukhari dan kitab lainnya.





Hadits KeLimabelas



"Orang yang memberi petunjuk kepada kebaikan sama pahalannya seperti orang yang melakukannya," (HR. Bukhari)


الدَّالُّ عَلَى الْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ



Di buku 1100 Hadits Terpilih ditulis demikian, akan tetapi tidaklah terdapat di Shahih Bukhari melainkan diriwayatkan oleh imam Ahmad dalam musnadnya no. 22360, 23027, at-Tirmidzi dalam Jami'nya no. 2670, ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. 628, 629, 631, 632, dan lainnya. hadits ini hasan shahih.





Hadits Keenambelas



“Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung.” (HR. Bukhari)



Hadits yang tidak ada dalam Shahih Bukhari, maupun al-Hakim (karena ada yang menyandarkan ke imam al-Hakim juga) lafadz arabnya :
من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح ومن كان يومه شرا من امسه فهو مفلس ومن كان يومه كأمسه فهو مغبون



Tidak diketemukan dengan lafadz ini, hanya saja ada lafadz yang mirip :


من استوى يوماه فهو مغبون، ومن كان يومه شراً من أمسه فهو ملعون

"barangsiapa yang hari-harinya sama maka dia merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih buruk daripada kemarin maka dia terlaknat."



Disebutkan oleh al-Ajulani dalam Kasyful Khafa' bahwa ini adalah perkataan Rasulullah dalam mimpinya Abdul Aziz bin Abi Rawwad. Ada juga yang mirip dengannya adalah perkataan Ali bin Abi Thalib dalam kitabnya ad-Dailami, musnad al-Firdaus dengan sanad yang dha'if





Hadits Ketujuhbelas



"Tidak ada pemberian ibu bapa yang paling berharga kepada anaknya daripada pendidikan akhlak mulia." (HR. Bukhari)
مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ



Hadits ini tidak ada dalam Shahih Bukhari, tapi diriwayatkan at-Tirmidzi dalam kitab Jami'nya no. 1952, Ahmad dalam Musnadnya no. 16710, 16717, ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir no. 13234, al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 7679, juga al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 1553, 8284, 8285, 8286. Adapun al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab at-Tarikh al-Kabir no. 1536. Kelemahan yang paling jelas dari sanad hadits ini adalah gugurnya perawi dari shahabat, dimana tabi'in yakni Amr bin Sa'id langsung menyebutkan perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam (mursal).



Khulashoh dari hadits ini menurut :- Syaikh Albani : dha'if, dalam Dha'if Sunan at-Tirmidzi no. 1952, Silsilah adh-Dha'ifah no. 1152, Dha'if at-Targhib wat-Tarhib no. 1230- Al-Mubarakfuri : mursal, dalam Tuhfatul Ahwadz 5/365- Al-Mizzi : mursal, dalam Tahdzibul Kamal 7/237, 9/359- Ibnu Hajar al-Asqalani : Mursal, dalam Tahdzib at-Tahdzib 4/49- Al-Bukhari : Mursal, wa lam yashih, dalam at-Tarikh al-Kabir. - Syaikh Syu'aib al-Arnauth : sanadnya dha'if dalam tahqiq Musnad Ahmad - adz-Dzahabi : dha'if mursal, dalam Talkhis al-Mustadrak





Hadits KeDelapanbelas



Dalam sebuah hadis,Rasulullah bercerita bahwa Iblis meminta tempat tinggal kepada Allah seperti halnya Allah memberikan tempat tinggal kepada anak adam untuk berada di bumi.



"Ya Allah,,adam dan keturunannya Engkau beri tempat tinggal di bumi,,maka berilah pula aku tempat tinggal..!!" Kata Iblis..Allah berfirman,,"Tempat tinggalmu adalah kamar mandi atau tandas" (HR. Bukhari)



Allahu a'lam, tidak diketemukan hadits ini di Shahih Bukhari ataupun di kitab-kitab hadits lainnya, ada yang mirip dengan ini di kitabnya ath-Thabrani yakni dalam al-Mu'jam al-Kabir no.7837 dari Abu Umamah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :


إِنَّ إِبْلِيسَ لَمَّا أُنْزِلَ إِلَى الْأَرْضِ قَالَ: يَا رَبِّ أَنْزَلْتَنِي إِلَى الْأَرْضِ، وَجَعَلْتَنِي رَجِيمًا أَوْ كَمَا ذَكَرَ فَاجْعَلْ لِي بَيْتًا، قَالَ: الْحَمَّامُ. قَالَ: فَاجْعَلْ لِي مَجْلِسًا، قَالَ: الْأَسْوَاقُ، وَمَجَامِعُ الطُّرُقِ. قَالَ: اجْعَلْ لِي طَعَامًا. قَالَ: مَا لَا يُذْكَرُ اسْمُ اللهِ عَلَيْهِ قَالَ: اجْعَلْ لِي شَرَابًا، قَالَ: كُلُّ مُسْكِرٍ. قَالَ: اجْعَلْ لِي مُؤَذِّنًا، قَالَ: الْمَزَامِيرُ. قَالَ: اجْعَلْ لِي قُرْآنًا. قَالَ: الشِّعْرُ. قَالَ: اجْعَلْ لِي كِتَابًا، قَالَ: الْوَسْمُ. قَالَ: اجْعَلْ لِي حَدِيثًا، قَالَ: الْكَذِبُ. قَالَ: اجْعَلْ لِي مَصَايِدَ، قَالَ: النِّسَاءُ

"Sesungguhnya Iblis ketika diturunkan ke bumi, dia berkata "Ya Tuhanku! Engkau telah menurunkanku ke dunia dan menjadikan aku terkutuk, maka dimanakah tempat kediamanku." maka Allah Subhanahu wa Ta'ala menjawab : "Kamar mandi." ...... [hingga akhir hadits]



Hadits ini sangat munkar, sebagaimana disebutkan oleh syaikh Albani dalamm Silsilah adh-Dha'ifah no. 6054, al-Iraqi dalam Takhrij al-Ihya 3/42 menyebutkan sanadnya sangat lemah



Hadits KeSembilanbelas



"Penyesalan adalah taubat"
النَّدَمُ تَوْبَةٌ

Hadits ini shahih, dikeluarkan para imam hadits dalam berbagai kitab mereka : Ahmad dalam musnadnya no. 3568, 4012, 4014, 4124; Ibnu Majah dalam Sunannya no. 4252; Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 612, 613, 614; ath-Thabrani dalam al-Ausath no. 101, 5864, 6799, 7350, dalam ash-Shaghir no. 80 & 186, dalam al-Kabir no. 101; al-Hakim dalam al-Mustadraknya no. 7612, 7613, 7614, dan juga di kitab-kitab lainnya dengan beberapa jalan dari beberapa sahabat



Allahu a'lam
Abu Aisyah Agung Supriyanto




Maraji' :
- Maktabah Syamilah
- Dorar.net
- grup FB Mendekatkan Hadits
- Faedah dari diskusi dengan Ustadz Abu Asma Andre hafizhahullah
- Faedah dari diskusi dengan Ustadz Umar Mansur ar-Rahimi hafizhahullah
- Faedah dari diskusi dengan al-akh Hendra Wibawa Wangsa Widjadja hafizhahullah
- dan lainnya

Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan seperti berikut :


“Hampir-hampir kefaqiran itu membawa kepada kekufuran.”
Kerap kali kita bertemu orang ramai menggunakan hadis ini untuk berhujah tentang bahaya kemiskinan,walau bagaimanapun ternyata hadis tersebut adalah dhaif yakni hadis yang lemah sanadnya(wahin) dan didalam kitab Tuhfath al-Ahwazi Syarh Jami' Tirmizi, pengarangnya menyatakan bahawa hadis tersebut diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dalam al-Hilayah daripada Anas sebagaimana yang tercatat didalam kitab al-Jami' al-Saghir. Tetapi apakah kita tidak boleh beramal dan mengunakan hadis-hadis dhaif ini untuk menguat dan mengukuhkan sesuatu hujah?


Para ulama telah bercanggah pendapat didalam menetapkan hukum penggunaan hadis-hadis dhaif ini, dan golongan ini terbahagi kepada tiga kelompok pendapat para ulama, didalam menentukan hukum menggunakan hadis-hadis dhaif ini :
  1. Kelompok pertama berpendapat bahawa hadis dhaif tidak boleh dijadikan sandaran untuk menguatkan hujah dalam penginstinbatan hukum seperti halal, haram dan sebagainya mahupun untuk tujuan seperti memberikan galakan(tarqib), menakut-nakutkan(tarhib) atau fadhail amal(kelebihan beramal), dan ini adalah merupakan pendapat dari Imam Bukhari dan Muslim serta beberapa ulama lain seperti Abu Bakar al-Arabi dari mazhab maliki, Abu Syamah al-Maqdisi dari mazhab syafie dan Ibnu Hazmin dari mazhab zahiri.
  2. Kelompok kedua pula berpendapat harus yakni dibolehkan menggunakan hadis-hadis dhaif bagi menguatkan hujah "jika tiada sandaran-sandaran lain daripada al-Quran, Hadis sahih, qias, ijma dan istihsan" bagi menyelesaikan sesuatu perkara, dan ini adalah pendapat-pendapat Imam Ahmad, Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim, yang mana Imam Ahmad telah berkata : "Hadis dhaif lebih kami sukai daripada fikiran seseorang", yang mana ianya menunjukkan bahawa hadis dhaif lebih kuat dari sebarang pendapat seseorang yang tidak bersandarkan kepada nash-nash al-quran dan sunnah.
  3. Kelompok ketiga pula berpendapat bahawa hadis-hadis dhaif tidak boleh dijadikan hujah dan sandaran untuk menguatkan sesuatu pendapat bagi penetapan atau untuk mengistinbat sesuatu hukum syarak mahupun dalam pemasalahan akidah, tetapi hukum beramal dengan hadis-hadis dhaif ini adalah mustahab (disukai) dan dibenarkan kita menggunakan hadis dhaif ini dalam hal-hal yang berkaitan seperti fadhail amal, tarhib dan tarqib dan lain-lain, dan ini adalah pendapat majoriti yakni jumhur ulama muhaqqiqin, ahlul hadis, ahlul fiqh dan lain-lain.

Antara ulama-ulama terkenal yang berpegang dengan pendapat ini adalah Imam Nawawi dan al-Hafiz ibnu Hajar malah Imam Nawawi mengatakan bahawa pendapat ini telah menjadi kesepakatan di antara para ulama, demikian pula Syaikh Ali Al-Qari dan Ibnu Hajar Al-Haitami.

Walau bagaimanapun para ulama mazhab syafie telah menetapkan syarat-syarat dan kaedah penggunaan hadis-hadis dhaif ini seperti berikut :

  1.  Tidak boleh menggunakan hadis dhaif dalam penetapan hukum syarak hanya hadis sahih dan hasan sahaja yang dibenarkan.
  2. Diharuskan beramal dengan hadis dhaif untuk tujuan fadhail amal untuk menggalakkan amal soleh dan berhati-hati dari perkara syubhah.
  3. Hadis yang digunakan tidaklah terlalu dhaif dan hadis-hadis tersebut mestilah bertepatan dengan kaedah-kaedah umum dalam islam yaitu walau bagaimana dhaif sekalipun tetapi jika ternyata hadis tersebut sahih, maka dengan mengamalkannya hak-hak hadis tersebut telah dipenuhi dan jika terbukti dhaif maka perkara tersebut yakni beramal dengan hadis dhaif tadi, tidaklah pula menyebabkan kesan yang negatif dari segi hukum syarak(yakni halal haram) atau mengakibatkan kehilangan hak seseorang.

Demikianlah serba sedikit mengenai kaedah penggunaan hadis-hadis dhaif ini, dan berbalik kepada persoalan asal mengenai kemiskinan boleh membawa kepada kekufuran tadi, timbul persoalan kemiskinan yang bagaimanakah bagaimanakah yang dimaksud oleh oleh hadis tersebut, apakah hanya kemiskinan dalam bentuk material semata-matakah yang dimaksudkan oleh hadis diatas yang boleh menyebabkan seseorang itu menjadi kufur? Atau kemiskinan dari segi lain?


Jika kita mengambil hadis tersebut sebagai sandaran dalam hujah kita supaya masyarakat kita berjaga-jaga dari bahaya kemiskinan, bagaimana pula dengan hadis berikut :


Daripada Ibnu Abbas dan ‘Imran bin Hussain r.a, bahawasanya Rasulullah SAW telah bersabda:



“Aku melihat ke dalam syurga, maka aku dapat melihat kebanyakan penghuninya adalah terdiri daripada kalangan orang-orang fakir miskin. Dan (apabila) aku melihat ke dalam neraka, maka aku dapat melihat kebanyakan penghuninya adalah terdiri daripada golongan perempuan.” (Hadis riwayat Muttafaqun ‘alaih)
Apakah persepsi kita sebagai orang yang berhujah menggunakan hadis diatas(pada permulaan artikel ini) akan berfikir "Ah! Mengapakah pula hadis ini bercanggah dengan hadis yang sebelumnya? Sepatutnya lebih pantas bilangan orang-orang miskin lebih ramai didalam neraka kerana hadis yang dipermulaan tadi menyatakan kebimbangan akan bahaya kemiskinan membawa kepada kekufuran" Tak begitu?"


Oleh sebab itu jika kita merujuk kepada pendapat-pendapat para ulama mengenai hadis yang menyatakan kemiskinan membawa kepada kekufran itu, sebahagian para ulama mengatakan bahawa ianya adalah kemiskinan jiwa dan hati yang membawa kepada kekufuran manakala sebahagian lain pula mengatakan kemiskinan ilmu, imam dan taqwalah yang menyebabkan kepada kekufuran mereka tetapi bukan kemiskinan harta benda, dan pendapat ini dikuatkan dengan hadis sahih rasulallah s.a.w. yang bermaksud seperti berikut :


“Bukan kemiskinan yang ku bimbang menimpa kamu tetapi yang aku bimbang ialah dibentangkan di hadapan kamu kemewahan dunia sebagaimana telah dibentangkan kepada umat sebelum kamu, lalu kamu berlumba-lumba mengejarnya sebagaimana umat dahulu kala juga berlumba-lumba mengejarnya, lalu ia membinasakan kamu seperti mana umat dahulu kala juga telah dihancurkan oleh sifat sedemiian.” (Hadis Bukhari-Kitab al-Jizyah no 2924)
Jelas sekali disini bahawa kemewahan itu lebih dibimbangi oleh rasulallah terhadap umatnya lebih daripada beliau bimbangkan kemiskinan yang bakal menimpa kepada umatnya sebagaimana dikuatkan lagi dengan hadis berikut :



Daripada Ali bin Abi Thalib r.a. :

"Bahawasanya kami sedang duduk bersama Rasulullah saw. di dalam masjid. Tiba-tiba datang Mus'ab bin Umair r.a. dan tiada di atas badannya kecuali hanya sehelai selendang yang bertampung dengan kulit. Tatkala Rasulullah saw.melihat kepadanya Baginda menangis dan menitiskan air mata kerana mengenangkan kemewahan Mus'ab ketika berada di Mekkah dahulu (kerana sangat dimanjakan oleh ibunya) dan kerana memandang nasib Mus'ab sekarang (ketika berada di Madinah sebagai seorang Muhajirin yang terpaksa meninggalkan segala harta benda dan kekayaan di Mekkah).
Kemudian Nabi Muhammad saw. bersabda:



"Bagaimanakahkeadaan kamu pada suatu saat nanti, pergi di waktu pagi dengan satu pakaian, dan pergi di waktu petang dengan pakaian yang lain pula. Dan bila diangkatkan satu hidangan diletakan pula satu hidangan yang lain. Dan kamu menutupi (menghias) rumah kamu sepertimana kamu memasang kelambu Ka'bah?".
Maka jawab sahabat:



"Wahai Rasulullah, tentunya di waktu itu kami lebih baik daripada di hari ini.Kami akan menberikan penumpuan kepada masalah ibadat sahaja dan tidak usah mencari rezeki".
Lalu Nabi saw. bersabda :



"Tidak! Keadaan kamu di hari ini adalah lebih baik daripada keadaan kamu di hari itu". (Riwayat Tirmizi)
Manakala Abul Laits Al-Samarqandi didalam karangan beliau Tanbihul Ghafilin menyatakan bahawa Ibnu Abbas r.a berkata : Nabi s.a.w. bersabda :



"Tiap umat ada fitnah(ujiannya) sendiri-sendiri, dan ujian umatku adalah harta kekayaan"
Dan jika kita menyemak helaian-helaian kitab yang ditulis oleh para ulama silam, kita akan mendapati begitu ramai ulama-ulama yang mengarang kelebihan dan kemulian yang dimilik oleh orang fakir melebihi orang-orang kaya.



Tetapi apakah ini bermakna bahawa agama islam menggalakkan umatnya menjadi papa kedana? Dengan cara mencintai kefakiran dan orang miskin? Sama sekali tidak, bahkan nabi pernah berdoa seperti berikut :



“Ya Allah. Saya berlindung dengan Kamu daripada kekufuran dan kefaqiran dan saya berlindung dengan Kamu daripada azab kubur. Tiada Tuhan melainkan Kamu.” (Hadis riwayat Abu Dawud, Nasaie dan Ahmad)
Saya yakin saudara-saudari yang mengambil berat akan agama islam ini, pasti telah faham dengan istilah washatiah yakni kesederhanaan, yakni supaya kita umat Muhammad menjadi umat yang bersyukur dan berinfak apabila kita kaya dan bersabar serta redha atas kemiskinan yang menimpa.



Ilmu adalah sebab terhindarnya Fakir dan Miskin dari kekufuran.
Abul Laits berkata: Abu Ja'far meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said al-Khudri r.a. berkata :

"Hai manusia jangan sampai kesukaran itu mendorong kamu mencari rezeki yang haram, sebab saya telah mendengar rasulallah s.a.w bersabda : "Ya Allah matikan aku sebagai orang fakir miskin, dan jangan dimatikan aku kaya, dan kumpulkan aku di mahsyar dalam rombongan orang-orang miskin pada hari kiamat, maka sesungguhnya yang amat celaka ialah orang miskin di dunia dan terseksa di akhirat".
Jelas hadis tersebut melarang kita walau sebangsat manapun kefakiran yang kita alami adalah tetap haram hukumnya kita mengambil hasil dari sumber yang haram malah kita ditegah juga dari mencampuri dengan perkara yang syubhah sehingga boleh mendatangkan fitnah, jelas orang miskin yang tiada berilmu dan beriman adalah seburuk-buruk dan secelaka-celaka orang miskin didunia, akibat kejahilannya, maka perbuatan mereka telah mendatangkan fitnah yang besar kepada masyarakat hingga menyebabkan perpecahan dan perbalahan atas kejahilan mereka.



Kerana itulah rasulallah s.a.w amat menekankan pentingnya menuntut ilmu sebagaimana yang disampaikan oleh Aban dari Anas bin Malik r.a. berkata : Nabi s.a.w. bersabda :


"Siapa yang menuntut ilmu bukan kerana Allah, maka tidak akan keluar dari dunia sehingga ilmu itu memaksanya untuk ikhlas kerana Allah. Dan siapa yang menuntut ilmu kerana Allah maka ia bagaikan orang yang berpuasa siang hari dan bangun dimalam hari. Dan belajar satu bab ilmu agama lebih baik baginya daripada mempunyai emas sebesar bukit abu qubais lalu dibelanjakan fisabilillah".
Oleh kerana itu rasullah s.a.w bimbang kepada mereka yang beramal tetapi jahil dan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abul Laits dengan sanadnya didalam Tanbihul Ghafilin beliau dari Syahr bin Hausyab berkata :  Luqman al-Hakim berkata kepada puteranya:


"Anakku bila kamu melihat kaum yang sedang berzikir kepada Allah, maka duduklah bersama mereka, sebab bila kamu seorang pandai maka bergunalah ilmumu, dan jika bila kamu bodoh, maka akan mendapat pelajaran dari mereka, dan kemungkinan Allah melihat mereka dengan pandangan rahmatNya maka kamu mendapat bahagian darinya. Dan bila kamu melihat kaum yang tidak berzikir, maka jangan duduk bersama mereka, sebab bila kamu seorang alim maka tidak berguna ilmumu, "dan bila bodoh nescaya akan bertambah sesat" dan mungkin Allah melihat mereka dengan murka sehingga kamu terkena juga murka Allah".
Sungguh pasti jika seseorang yang beriman dan memiliki ilmu serta beramal pasti tidak mudah mereka dipermainan serta diperdaya oleh mereka yang suka memperdaya dan mengambil kesempatan diatas kemiskinan dan kefakiran mereka, kerana jika benar mereka beriman kepada Allah dan "beramal" dengan ilmu yang dipelajari pasti insyaAllah mereka akan dijaga oleh Allah s.w.t serta diberi kemulian sebagai mana Allah berfirman :


"Katakanlah lagi (kepadanya); "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?" : az-Zumar 9
dan lagi Allah berfirman :


"Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah dari kalangan hamba-hambanya hanyalah orang-orang yang berilmu" : Faatir 28
dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang semakin banyak dipelajari maka semakin takut dan ingat kepada Allah sebaigamana yang rasulallah bersabda :


"Apabila aku didatangi oleh suatu hari dan tidak bertambah ilmuku pada hari itu, yang dapat mendekatkan diriku kepada Allah azza wa jalla maka tidak ada keberkatan untukku pada hari itu"(Diriwayatkan oleh Thabrani, Abu Na'im dan Ibnu Abul Barr)

Adnan Rahim